jendela-puisi

Sunday, January 13, 2008

Doa Seorang Pemuda Rangkas Bitung di Rotterdam

Bismillahir rohmanir rohiim

Allah! Allah!
Napasmu menyentuh ujung jari-jariku yang menyembul dari selimut
Aku membuka mata dan aku tidak bangkit dari tidurku.
Aku masih mengembara di dalam jiwa.

Burung-burung terbakar di langit dan menggelepar di atas bumi.
Bunga-bunga apyun diterbangkan angin jatuh di atas airhanyut di kali,
dibawa ke samodra disantap oleh kawanan hiu
yang lalu menggelepar jumpalitan bersama gelombang.

Aku merindukan desaku
limabelas kilo dari Rangkas Bitung
Aku merindukan nasi merah, ikan pepes, desir air menerpa batu
bau khusus dari leher wanita desa,
suara doa di dalam kabut.

Musna. Musna. Musna.
Para turis, motel dan perkebunan masuk desa.
Gadis-gadis desa lari ke kota bekerja di panti pijat,
para lelaki lari ke kota jadi gelandangan.
Dan akhirnya digusur atau ditangkapi disingkirkan dari kehidupan.
Rakyat kecil bagaikan tikus.
Dan para cukong selalu siap membekali para penguasa dengan semprotan anti hama.
Musna. Musna. Musna.

Kini aku disini.
Di Rotterdam.
Menjelang subuh.
Angin santer.
Jendela tidak kubuka, tapi tirainya aku singkapkan.
Kaca basah.
Musim gugur.
Aku mencium bau muntah.
Orang negro histeris ketakutan dikejar teror orang kulit putih
di tanah leluhurnya sendiri di Afrika Selatan.
Kekerasan. Kekuasaan. Kekerasan.
Dan lantaran ada tambang intan di sana,
kekuatan adikuasa orang-orang kulit putih
juga termasuk yang termasuk yang demokrat,
memalingkan muka, bergumam seperti orang bego,
dan mengulurkan tangan di bawah meja,
melakukan kerja sama dagang dengan para penindas itu.
Dusta. Dusta. Dusta.

Ya, Allah Yang Maha Rahman.
Tanganku mengembang di atas air bersama sampah peradaban.
Apakah aku akan berenang melawan arus?
Langit nampak dari jendela.
Ada hujan bulu-bulu angsa.
Aku hilang di dalam kegagapan.
Aku tidak bisa bersikap apa-apa.
Ada trem lewat.
Trem? Buldozer? Panser?
Apakah aku akan menelpon Linde?
Atau Adriaan?
Berapa lama akan sampai kalau sekarang aku menulis surat
kepada Oda di Jepang?
Sia-sia. Musna. Dusta
Rotterdam! Rotterdam!
Hiruk pikuk suara pasar di Jakarta
Bau daging yang terbakar.
Biksu di Vietnam protes membakar diri.
Perang saudara di India yang abadi.
Aku termangu.
Apakah aku akan menyalakan lampu?
Terdengar lonceng berdentang.
Berapa kali tadi?
Jam berapa sekarang?
Ayahku di Rangkas Bitung selalu bertanya:
Kapan kamu akan menikah?
Apakah kamu akan menikah dengan perempuan Indonesia atau Belanda?
Kapan kamu akan memberiku seorang cucu?
Apakah lampu akan kunyalakan?
Di Rangkas Bitung pasti musim hujan sudah datang.
Kenapa aku harus punya anak?
Kalau perang dunia ketiga meletus
nuklir digunakan, angin bertiup,
setiap mega jadi ancaman.
Jadi anakku nanti harus mengalami semua ini?
Rambut rontok. Kulit terkelupas.
Ampas bencana tidak berdaya.
Ah, anakku,
sekali kamu dilahirkan tak mungkin kamu kembali mengungsi
ke dalam rahim ibumu!

Suara apakah itu?
Elektronik musik?
Jam berapa sekarang?
Apakah sudah terlambat untuk shalat subuh?
Buku-buku kuliah di atas meja.
Tanganku mengambang di atas air.
Tanganku menjamah kaca jendela.
Hujan menerpa kaca jendela.
Dan dari jauh datang mendekat: wajahku.
Apakah yang sedang aku lakukan?
Ya Allah Yang Maha Rahman!
Tanganku mengambang di atas air
bersama sampah peradaban.
Apakah aku harus berenang melawan arus?
Astaga! Pertanyaan apa ini!
Apakah aku takut? Ataukah aku menghiba?
Apalah aku takut lalu menghiba?
Pertanyaan apa ini?

Ya, Allah Yang Maha Rahman.
Aku akan menilpon Linde
dan juga Adriaan.
Aku akan menulis surat kepada Makoto Oda.
Tanganku mengepal ke dalam airtercemar sampah peradaban.
Tidak perlu aku merasa malu untuk bicara dengan imanku.

Allah Yang Maha Rahman
imanku adalah pengalamanku


Rendra, Bojong Gede, 6 Nopember 1990

Soneta 17 by Pablo Neruda

aku tak mencintaimu seolah-olah kau adalah serbuk mawar,
atau batu topaz,atau panah anyelir yang menyalakan api.
aku mencintaimu seperti sesuatu dalam kegelapan yang harus dicintai,secara rahasia,
diantara bayangan dan jiwa.

aku mencintaimu seperti tumbuhan yang tak pernah mekar
tetapi membawa dalam dirinya sendiri cahaya dari bunga-bunga yang tersembunyi;
terimakasih untuk cintamu suatu wewangian padat,
bermunculan dari dalam tanah, hidup secara gelap di dalam tubuhku.

aku mencintaimu tanpa tahu mengapa, atau kapan, atau darimana
aku mencintaimu lurus, tanpa macam-macam tanpa kebanggaan;
demikianlah aku mencintaimu karena aku tak tahu cara lainnya
beginilah: dimana aku tiada, juga kau,begitu dekat
sehingga tanganmu di dadaku adalah tanganku,
begitu dekat sehingga ketika matamu terpejam akupun jatuh tertidur

Di Malioboro

--kepada seseorang yang mengingatkan saya akan Iramani, yang dibunuh di tahun 1965


Saya menemukanmu, tersenyum, acuh tak acuh di sisi Benteng Vriedenburg
Siapa namamu, kataku, dan kau bilang: Kenapa kau tanyakan itu.
Malam mulai diabaikan waktu. Di luar, trotoar tertinggal.
Deret gedung bergadang dan lampu tugur sepanjang malam
seperti jaga untuk seorang baginda yang sebentar lagi akan mati.
Mataram, katamu, Mataram...
Ingatan-ingatan pun bepercikan --sekilas terang kemudian hilang-- seakan pijar di kedai tukang las.
Saya coba pertautkan kembali potongan-potongan waktu yang terputus dari landas.
Tapi tak ada yang akan bisa diterangkan, rasanya
Di atas bintang-bintang mabuk oleh belerang,
kepundan seperti sebuah radang,
dan bulan dihirup hilang kembali oleh Merapi
Trauma, kau bilang (mungkin juga, "trakhoma?") membutakan kita
Dan esok los-los pasar akan menyebarkan lagi warna permainan kanak dari kayu: boneka-boneka pengantin merah-kuning dan rumah-rumah harapan dalam lilin.
Siapa namamu, tanyaku. Aku tak punya ingatan untuk itu, sahutmu.

Oleh: Gunawan Muhammad

Tuesday, March 13, 2007

Memanen Cinta

Sebuah Cerpen

Di boarding room Soekarno-Hatta perasaannya yang galau belum juga reda. Ia mencoba mengobatinya dengan mengingat kembali masa-masa penuh bahagia itu.
Ini terjadi di jalan Casablanca. Setiap pagi ia melewati jalan sepanjang Casablanca yang dihias beberapa gedung indah seperti Manhattan Hotel, Mal Ambassador, Dharmala, Aetna Building, dan Word Trade Centre. Kalau anda masuk ke dalam salah satu gedung itu, mungkin anda akan lebih terkesima lagi melihat lobby lift, café-cafenya, taman parkir, dan mobil-mobil baru.. Tidak kalah juga pernak-pernik di jalan yang akan membuat gusar perjalananmu seperti joki three in one, kemacetan dan tukang ojek.
Waktu itu sedang hujan deras selepas maghrib. Senja telah menyelamatkan diri ke haribaan langit. Mobil merayapi jalan melewati bangunan bertingkat, makam dan deretan pohon akasia yang bergerak-gerak diterpa angin. Berjenis kembang kemboja di makam samping Casablanca Apartment pada sembunyi. Seratus penunggu angkutan kota masih bertahan di bawah pohon-pohon dadap dan di halte-halte.
Sudah kebiasaan bagi Wildan untuk melirik ke kiri jalan barangkali ada seorang gadis yang bisa ia jadian kekasih apalagi isteri. Kemudian mengajaknya pulang bersama. Malam itu adalah malam ketika ia sangat beruntung. Ia baru saja mendapat kenaikan jabatan. Dan di jalan pulang, ia melihat gadis cantik sedang bertahan dibawah hujan menunggu angkutan. Ia menepi dan membuka jendelanya. Wildan menawarinya masuk ke dalam mobil. Gadis itu setengah terpaksa masuk ke mobil Wildan dan ia mengantarnya sampai tempat kosnya di Pondok Bambu.
“Kamu bekerja dimana?” tanya Wildan penuh harapan.
“Aku bekerja di rumah sakit di Rasuna Said.”
Semenjak percakapan itu, kehidupan asmaranya dengan seorang gadis dimulai. Mereka kerap pergi berdua ke twenty one, dinner dan ke pantai. Benih-benih cinta mulai tumbuh.
Didalam mobil jemputan kenalan bapaknya dari bandara Blang Bintang ke kota Meulaboh, Wildan teringat kembali ketika perasaan getir pertama kali menggores di dalam dadanya. Salma menitipkan surat ke ibu kosnya. Begini isi surat itu. ”Aku minta maaf Mas Widanl, aku harus pergi ke Aceh menengok ibu yang sedang sakit. Aku harus pergi..Maafkan aku.” . Ia mencoba berkali-kali menghubunginya lewat handphone namun tak berhasil. Diluar jangkauan area, begitu selalu jawaban handphonenya.
“Ada perlu apa mas ke Aceh? Tidak takut sama Gam ?” kata sopir itu mencoba mengajaknya bicara.
“Mudah-mudahan tidak pak. Saya mau menyusul calon isteri.”
“O ya? Dimana?”
“Di desa Ujong Baroh. Aceh Barat. Salma namanya. Apakah bapak kenal”
“Wah desa itu luas Mas. Dan wanita yang bernama Salma, mungkin tiadak hanya satu…Disana banyak Gam lho, hati-hati nanti!”
“Iya, tetapi Salma yang satu ini paling cantik. Pasti hanya dia yang paling cantik di kampung itu. Pasti tidak ada lagi.”
Wildan tidak terlalu terusik oleh kekhawatiran sopir itu. Ia hanya terbayang wajah Salma, seorang gadis secantik putri Arab yang pernah ia dapat dari tepi Casablanca.
Tiba dirumah seorang bupati kota Meuloaboh, Wildan diterima dengan hangat oleh keluarga Bapak Burhanudin, kenalan ayah Wildan yang sangat dihormati di kota itu, karena sudah dua periode menjadi bupati. Selain menjadi pekabat kota, ia juga sukses dengan usahanya menyewakan alat-alat pesta perkawinan. Rumahnya paling besar dibanding dengan rumah tetangganya yang lain. Ia mempunyai isteri yang cantik dan dua anak perempuan yang cantik pula.
Setiap malam jum’at Pak Burhan mengundang seorang ustad untuk mengajari anak-anaknya mengaji Alquran. Waktu Wildan tiba disana pas malam Jumat jadi ia sempat mendengar anak-anak Pak Burhan belajar mengaji. Ia jadi teringat masa kecilnya dulu, waktu mengaji dibawah pohon ketapang. Didalam kamar Wildan istirahat sambil memendam rindu. “Untuk apa aku mencari seorang gadis di Aceh? Apa di Jakarta tidak ada lagi wanita yang lebih cantik ?”
Pagi hari mereka ,yakni Wildan dan sopirnya Pak Burhan yag bernama Wardi mulai mencari alamat Salma ke desa Ujong Barohm beberapa kilometer dari kota Meulaboh. Mereka pergi sampai sore sampai malam. Malam itu malam tanggal 25 Desember 2004, tiba-tiba gempa berkekuatan sembilan skala richter mengguncang Aceh. Tsunami yang paling menakutkan dalam sejarah melanda. Menelan rumah-rumah, jalan dan manusia. Wildan bersama sopir dan Pak Burhan sedang menuju pulang. Tiba-tiba lumpur hitam setinggi satu meter menyeret mobil van yang dibawa pak Wardi, ke arah bukit dan menabrakannnya ke sebuah pohon yang besar. Pak Burhan yang duduk dibelakang terpelanting kedepan. Mereka luka memar. Mereka bertiga terjebak disitu sampai pagi.
Suasana di Meulaboh sangat mengerikan pada hari pertama setelah badai tsunami. Tak terlihat satupun burung terbang. Kota tampak seperti lukisan surealisme jika dilihat dari mata burung. Hanya satu bangunan masjid dan makam lengkap dengan kanopi yang masih tegak berdiri. Dari sekitar empat puluh ribu yang tinggal di desa itu, mungkin dua puluh ribu orangnya habis tersapu tsunami.
Pak Burhan hanya kaku dan selalu menangis di dalam tenda darurat milik TNI setelah melihat rumahnya yang megah hancur dan anak istrinya tidak diketahui dimana mayatnya. Pak Wardi terlihat lebih sabar dan langsung bekerja memindahkan mayat. Wildan sempat pingsan sekali melihat mayat-mayat tergencet lalu ikut membantu pak Wardi. Terlihat pula dikejauhan pak ustad Sobur yang mengajar dirumah pak Burhan juga sedang mengangkat mayat-mayat ke tempat yang kering dan menutupinya dengan koran. Mata-mata yang selalu berkaca-kaca, tersedu-sedu, dan menetes airmata Sebagian tak sempat lagi mengaduh. Mereka harus berdiri mengangkat puing dan menyapu lumpur mencari anggota keluarga. Bibir-bibir tak sempat tersenyum karena harus mencari lagi sanak saudara – mencari lagi orang tua.
Wildan bergetar ketakutan ketika memegang seorang mayat anak kecil yang sudah membiru. Setelah ia letakan di tanah yang lebih tinggi, ia lalu mundur ke arah perbukitan. Kami digiring oleh petugas tni ke daerah bukit karena takut ada gelombangtsunmai susulan. Ia terpana, takut dan galau. “Bagaimana nasib Salma? Bagaimana ia bisa pulang nanti?. Ia kemudian mencoba mengirim pesan sms ke keluarga di Jakarta. Namun tak behasil. Sinyal sama sekali tidak ada.
Seorang ofiser TNI menghampirinya menyerahkan kunci mobil. “Kamu bisa bawa mobil kan? Tolong cari bantuan makanan ke kota” Ofiser itu menatap ke Pak Burhan. “Kamu temani dia !”. Pak Burhan dengan tatap mata kosong tidak bergeming. Akhirnya Wildan ditemani pak ustad pergi mencari bantuan makanan atau obat-obatan.
Mereka berdua melewati jalan-jalan berulmpur dan sawah-sawah yang terendam. “Mengapa bapak bisa kuat berdiri sedangkan yang lain banyak yang tak mampu….”
“Ya mau disesali bagaimana lagi, saya toh hanya kehilangan anak satu, isteri saya sudah meninggal tiga tahun yang lalu….Saya engga mungkin menyesal terlalu lama, karena anak saya juga kesurga menyusul isteri saya. Lihatlah Wardi, sopirnya pak Burhan, ia cepat bangkit menolong orang-orang, mencari mayat yang ia kenali. Kondisi kami berbeda dengan Pak Burhan yang kehilangan segala miliknya. “
Mereka kerap terhenti dan berbalik arah karena jalan yang harus dilalui terhalang pohon tumbang dan ketika mencari jalan lain mereka menemukan jembatan telah hancur. Wildan akhirnya menerabas melalui semak belukar atas petunjuk pak ustad. Tiba-tiba sekelompok orang menggunakan senapan AK menghadang mereka, dan meminta mereka turun. Wildan dan pak ustad dipaksa untuk meletakan tangan dikepala dan jongkok. Wldan menurut namun Pak ustad Sobur menolak lalu berdiri dan berbicara dengan bahasa Aceh.
“Kami sedang mencari bantuan untuk kampung kami yang tertimpa bencana. Tidak tahu apa kalian?, apakah kalian tidak mencari keluarga kalian?”
“Sudahlah sekarang kalian ikut kami, kamu memakai mobil TNI. Jangan-jangan kalian mata-mata.”
Wildan dan pak ustad Sobur dibawa ke markas untuk bertemu dengan pimpinan mereka yakni Tengku Hasan. Tangan mereka diikat. Tengku Hasan dengan wajah berwibawa bertanya:
“Siapa kalian?
Ustad Sobur langsung menjawab. “Assallamualaikum Tengku. Demi Allah demi Rosul Muhammad kami berdua memakai mobil TNI hanya untuk mencari bantuan makanan untuk korban tsunami. Kalau tidak percaya, tembak saja saya.” Tengku terdiam mendengar jawaban ustad Sobur yang lantang dan berani itu, sementara Wildan tak sanggup menatap mata Tengku yang seperti kucing liar. “Baik. Aku percaya kalian. Aku akan bebaskan kalian besok ke kota. “Tetapi sekarang sudah menjelang maghrib, kalian sekarang masuklah.”
Mereka berdua menurut dan menjadi tawanan semalam. Mereka ditahan di dalam rumah setengah jadi, terbuat dari batang pohon dan atap daun kelapa. Dalam heningnya malam, terdengar lirih ustad Sobur berdoa: “Ya Allah..Ajarkan aku sabar untuk kesekian kali. Hidup didalam negeri yang penuh misteri ini, penuh duka ini. Agar bisa kulalui hidup ini dengan penuh harapan. Wildan juga pasrah dan sangat lelah, ia pun tertidur.
Tengku Hasan melepas mereka pagi itu sambil berpesan kepada anak buahnya untuk menjaganya agar jangan sampai tertangkap musuh. Pagi sangat sepi Wildan dan ustad sobur diantar melalui semak dan hutan, sebagian hutan sudah habis ditebang dan semak terbakar. Mereka berempat pengantar tiba di jalan aspal yang sepi dan berangin. Ada pagar kawat ayam disisi kanan mereka dan sebuah tanda bertuliskan “No Tresspassing”.
Tiba-tiba suara tembakan entah dari arah mana membuat kami sangat panik. Ustad Sobur jatuh terkapar terkena tembakan ketika mencoba memeluk dan menghalangi tubuh Wildan dari kontak senjata itu. Mereka berdua gugur ke aspal dan.berangsur-angsur… pandangan hilang.
Mata wildan terbuka perlahan-lahan dan tanpa merasakan Wildan langsung memeluk gadis itu dan menangis tersedu-sedu, seperti terbangun dari mimpi buruk. Semuanya seakan ia tinggalkan hanya untuk Salma. ”Ya Tuhan Mas Wil, ngapain kamu bisa ada disini.?”
Suasana barak darurat Palang Merah Indonesia yang sangat remang dan sumpek namun bagi mereka berdua sangatlah berharga. Berderet korban gempa dan korban bentrokan senjata jadi satu dengan menggunakan peralatan apa adanya.
“Sudah jangan banyak bergerak.” Salma merebahkan badannya.
“Aku hampir saja melupakanmu Salma, wajahmu sudah tertutup rasa takutku akan Aceh. Tapi aku tak takut lagi kini. Aku sudah siap terima apapun, disini.”
“Salma menutup mulut Wildan menggelengkan kepaal tak setuju.”
“Kamu harus kembali bersama keluargamu di Jakarta. Keluargamu pasti mencemaskanmu. Kamu tidak cocok disini.” Salma berkata sambil meneteskan airmatanya. Karena aku sayang sama kamu, takut terjadi apa apa…”
Wildan tidak sanggup lagi melanjutkan argumennya. Tangannya diangakat perlahan Dibukanya ikatan rambut gadisnya sampai terurai. Dicium rambutnya sambil membayangkan saat ia berdua di tepi pantai. Dipeluknya gadis itu begitu erat.
Ustad Sobur gugur dan dimakamkan didekat makam isteri dan anaknya. Dan lewat bantuan Pak Burhanudin yang sudah mampu bangkit kembali, Wildan menikahi Salma di kota ,Wildan kemudian bergabung dengan lembaga pembangunan kembali Aceh, sedangkan Salma menjadi perawat di PMI. Sebulan sekali mereka berkunjung ke Jakarta.

Memanen Cinta

Sebuah Cerpen

Di boarding room Soekarno-Hatta perasaannya yang galau belum juga reda. Ia mencoba mengobatinya dengan mengingat kembali masa-masa penuh bahagia itu.
Ini terjadi di jalan Casablanca. Setiap pagi ia melewati jalan sepanjang Casablanca yang dihias beberapa gedung indah seperti Manhattan Hotel, Mal Ambassador, Dharmala, Aetna Building, dan Word Trade Centre. Kalau anda masuk ke dalam salah satu gedung itu, mungkin anda akan lebih terkesima lagi melihat lobby lift, café-cafenya, taman parkir, dan mobil-mobil baru.. Tidak kalah juga pernak-pernik di jalan yang akan membuat gusar perjalananmu seperti joki three in one, kemacetan dan tukang ojek.
Waktu itu sedang hujan deras selepas maghrib. Senja telah menyelamatkan diri ke haribaan langit. Mobil merayapi jalan melewati bangunan bertingkat, makam dan deretan pohon akasia yang bergerak-gerak diterpa angin. Berjenis kembang kemboja di makam samping Casablanca Apartment pada sembunyi. Seratus penunggu angkutan kota masih bertahan di bawah pohon-pohon dadap dan di halte-halte.
Sudah kebiasaan bagi Wildan untuk melirik ke kiri jalan barangkali ada seorang gadis yang bisa ia jadian kekasih apalagi isteri. Kemudian mengajaknya pulang bersama. Malam itu adalah malam ketika ia sangat beruntung. Ia baru saja mendapat kenaikan jabatan. Dan di jalan pulang, ia melihat gadis cantik sedang bertahan dibawah hujan menunggu angkutan. Ia menepi dan membuka jendelanya. Wildan menawarinya masuk ke dalam mobil. Gadis itu setengah terpaksa masuk ke mobil Wildan dan ia mengantarnya sampai tempat kosnya di Pondok Bambu.
“Kamu bekerja dimana?” tanya Wildan penuh harapan.
“Aku bekerja di rumah sakit di Rasuna Said.”
Semenjak percakapan itu, kehidupan asmaranya dengan seorang gadis dimulai. Mereka kerap pergi berdua ke twenty one, dinner dan ke pantai. Benih-benih cinta mulai tumbuh.
Didalam mobil jemputan kenalan bapaknya dari bandara Blang Bintang ke kota Meulaboh, Wildan teringat kembali ketika perasaan getir pertama kali menggores di dalam dadanya. Salma menitipkan surat ke ibu kosnya. Begini isi surat itu. ”Aku minta maaf Mas Widanl, aku harus pergi ke Aceh menengok ibu yang sedang sakit. Aku harus pergi..Maafkan aku.” . Ia mencoba berkali-kali menghubunginya lewat handphone namun tak berhasil. Diluar jangkauan area, begitu selalu jawaban handphonenya.
“Ada perlu apa mas ke Aceh? Tidak takut sama Gam ?” kata sopir itu mencoba mengajaknya bicara.
“Mudah-mudahan tidak pak. Saya mau menyusul calon isteri.”
“O ya? Dimana?”
“Di desa Ujong Baroh. Aceh Barat. Salma namanya. Apakah bapak kenal”
“Wah desa itu luas Mas. Dan wanita yang bernama Salma, mungkin tiadak hanya satu…Disana banyak Gam lho, hati-hati nanti!”
“Iya, tetapi Salma yang satu ini paling cantik. Pasti hanya dia yang paling cantik di kampung itu. Pasti tidak ada lagi.”
Wildan tidak terlalu terusik oleh kekhawatiran sopir itu. Ia hanya terbayang wajah Salma, seorang gadis secantik putri Arab yang pernah ia dapat dari tepi Casablanca.
Tiba dirumah seorang bupati kota Meuloaboh, Wildan diterima dengan hangat oleh keluarga Bapak Burhanudin, kenalan ayah Wildan yang sangat dihormati di kota itu, karena sudah dua periode menjadi bupati. Selain menjadi pekabat kota, ia juga sukses dengan usahanya menyewakan alat-alat pesta perkawinan. Rumahnya paling besar dibanding dengan rumah tetangganya yang lain. Ia mempunyai isteri yang cantik dan dua anak perempuan yang cantik pula.
Setiap malam jum’at Pak Burhan mengundang seorang ustad untuk mengajari anak-anaknya mengaji Alquran. Waktu Wildan tiba disana pas malam Jumat jadi ia sempat mendengar anak-anak Pak Burhan belajar mengaji. Ia jadi teringat masa kecilnya dulu, waktu mengaji dibawah pohon ketapang. Didalam kamar Wildan istirahat sambil memendam rindu. “Untuk apa aku mencari seorang gadis di Aceh? Apa di Jakarta tidak ada lagi wanita yang lebih cantik ?”
Pagi hari mereka ,yakni Wildan dan sopirnya Pak Burhan yag bernama Wardi mulai mencari alamat Salma ke desa Ujong Barohm beberapa kilometer dari kota Meulaboh. Mereka pergi sampai sore sampai malam. Malam itu malam tanggal 25 Desember 2004, tiba-tiba gempa berkekuatan sembilan skala richter mengguncang Aceh. Tsunami yang paling menakutkan dalam sejarah melanda. Menelan rumah-rumah, jalan dan manusia. Wildan bersama sopir dan Pak Burhan sedang menuju pulang. Tiba-tiba lumpur hitam setinggi satu meter menyeret mobil van yang dibawa pak Wardi, ke arah bukit dan menabrakannnya ke sebuah pohon yang besar. Pak Burhan yang duduk dibelakang terpelanting kedepan. Mereka luka memar. Mereka bertiga terjebak disitu sampai pagi.
Suasana di Meulaboh sangat mengerikan pada hari pertama setelah badai tsunami. Tak terlihat satupun burung terbang. Kota tampak seperti lukisan surealisme jika dilihat dari mata burung. Hanya satu bangunan masjid dan makam lengkap dengan kanopi yang masih tegak berdiri. Dari sekitar empat puluh ribu yang tinggal di desa itu, mungkin dua puluh ribu orangnya habis tersapu tsunami.
Pak Burhan hanya kaku dan selalu menangis di dalam tenda darurat milik TNI setelah melihat rumahnya yang megah hancur dan anak istrinya tidak diketahui dimana mayatnya. Pak Wardi terlihat lebih sabar dan langsung bekerja memindahkan mayat. Wildan sempat pingsan sekali melihat mayat-mayat tergencet lalu ikut membantu pak Wardi. Terlihat pula dikejauhan pak ustad Sobur yang mengajar dirumah pak Burhan juga sedang mengangkat mayat-mayat ke tempat yang kering dan menutupinya dengan koran. Mata-mata yang selalu berkaca-kaca, tersedu-sedu, dan menetes airmata Sebagian tak sempat lagi mengaduh. Mereka harus berdiri mengangkat puing dan menyapu lumpur mencari anggota keluarga. Bibir-bibir tak sempat tersenyum karena harus mencari lagi sanak saudara – mencari lagi orang tua.
Wildan bergetar ketakutan ketika memegang seorang mayat anak kecil yang sudah membiru. Setelah ia letakan di tanah yang lebih tinggi, ia lalu mundur ke arah perbukitan. Kami digiring oleh petugas tni ke daerah bukit karena takut ada gelombangtsunmai susulan. Ia terpana, takut dan galau. “Bagaimana nasib Salma? Bagaimana ia bisa pulang nanti?. Ia kemudian mencoba mengirim pesan sms ke keluarga di Jakarta. Namun tak behasil. Sinyal sama sekali tidak ada.
Seorang ofiser TNI menghampirinya menyerahkan kunci mobil. “Kamu bisa bawa mobil kan? Tolong cari bantuan makanan ke kota” Ofiser itu menatap ke Pak Burhan. “Kamu temani dia !”. Pak Burhan dengan tatap mata kosong tidak bergeming. Akhirnya Wildan ditemani pak ustad pergi mencari bantuan makanan atau obat-obatan.
Mereka berdua melewati jalan-jalan berulmpur dan sawah-sawah yang terendam. “Mengapa bapak bisa kuat berdiri sedangkan yang lain banyak yang tak mampu….”
“Ya mau disesali bagaimana lagi, saya toh hanya kehilangan anak satu, isteri saya sudah meninggal tiga tahun yang lalu….Saya engga mungkin menyesal terlalu lama, karena anak saya juga kesurga menyusul isteri saya. Lihatlah Wardi, sopirnya pak Burhan, ia cepat bangkit menolong orang-orang, mencari mayat yang ia kenali. Kondisi kami berbeda dengan Pak Burhan yang kehilangan segala miliknya. “
Mereka kerap terhenti dan berbalik arah karena jalan yang harus dilalui terhalang pohon tumbang dan ketika mencari jalan lain mereka menemukan jembatan telah hancur. Wildan akhirnya menerabas melalui semak belukar atas petunjuk pak ustad. Tiba-tiba sekelompok orang menggunakan senapan AK menghadang mereka, dan meminta mereka turun. Wildan dan pak ustad dipaksa untuk meletakan tangan dikepala dan jongkok. Wldan menurut namun Pak ustad Sobur menolak lalu berdiri dan berbicara dengan bahasa Aceh.
“Kami sedang mencari bantuan untuk kampung kami yang tertimpa bencana. Tidak tahu apa kalian?, apakah kalian tidak mencari keluarga kalian?”
“Sudahlah sekarang kalian ikut kami, kamu memakai mobil TNI. Jangan-jangan kalian mata-mata.”
Wildan dan pak ustad Sobur dibawa ke markas untuk bertemu dengan pimpinan mereka yakni Tengku Hasan. Tangan mereka diikat. Tengku Hasan dengan wajah berwibawa bertanya:
“Siapa kalian?
Ustad Sobur langsung menjawab. “Assallamualaikum Tengku. Demi Allah demi Rosul Muhammad kami berdua memakai mobil TNI hanya untuk mencari bantuan makanan untuk korban tsunami. Kalau tidak percaya, tembak saja saya.” Tengku terdiam mendengar jawaban ustad Sobur yang lantang dan berani itu, sementara Wildan tak sanggup menatap mata Tengku yang seperti kucing liar. “Baik. Aku percaya kalian. Aku akan bebaskan kalian besok ke kota. “Tetapi sekarang sudah menjelang maghrib, kalian sekarang masuklah.”
Mereka berdua menurut dan menjadi tawanan semalam. Mereka ditahan di dalam rumah setengah jadi, terbuat dari batang pohon dan atap daun kelapa. Dalam heningnya malam, terdengar lirih ustad Sobur berdoa: “Ya Allah..Ajarkan aku sabar untuk kesekian kali. Hidup didalam negeri yang penuh misteri ini, penuh duka ini. Agar bisa kulalui hidup ini dengan penuh harapan. Wildan juga pasrah dan sangat lelah, ia pun tertidur.
Tengku Hasan melepas mereka pagi itu sambil berpesan kepada anak buahnya untuk menjaganya agar jangan sampai tertangkap musuh. Pagi sangat sepi Wildan dan ustad sobur diantar melalui semak dan hutan, sebagian hutan sudah habis ditebang dan semak terbakar. Mereka berempat pengantar tiba di jalan aspal yang sepi dan berangin. Ada pagar kawat ayam disisi kanan mereka dan sebuah tanda bertuliskan “No Tresspassing”.
Tiba-tiba suara tembakan entah dari arah mana membuat kami sangat panik. Ustad Sobur jatuh terkapar terkena tembakan ketika mencoba memeluk dan menghalangi tubuh Wildan dari kontak senjata itu. Mereka berdua gugur ke aspal dan.berangsur-angsur… pandangan hilang.
Mata wildan terbuka perlahan-lahan dan tanpa merasakan Wildan langsung memeluk gadis itu dan menangis tersedu-sedu, seperti terbangun dari mimpi buruk. Semuanya seakan ia tinggalkan hanya untuk Salma. ”Ya Tuhan Mas Wil, ngapain kamu bisa ada disini.?”
Suasana barak darurat Palang Merah Indonesia yang sangat remang dan sumpek namun bagi mereka berdua sangatlah berharga. Berderet korban gempa dan korban bentrokan senjata jadi satu dengan menggunakan peralatan apa adanya.
“Sudah jangan banyak bergerak.” Salma merebahkan badannya.
“Aku hampir saja melupakanmu Salma, wajahmu sudah tertutup rasa takutku akan Aceh. Tapi aku tak takut lagi kini. Aku sudah siap terima apapun, disini.”
“Salma menutup mulut Wildan menggelengkan kepaal tak setuju.”
“Kamu harus kembali bersama keluargamu di Jakarta. Keluargamu pasti mencemaskanmu. Kamu tidak cocok disini.” Salma berkata sambil meneteskan airmatanya. Karena aku sayang sama kamu, takut terjadi apa apa…”
Wildan tidak sanggup lagi melanjutkan argumennya. Tangannya diangakat perlahan Dibukanya ikatan rambut gadisnya sampai terurai. Dicium rambutnya sambil membayangkan saat ia berdua di tepi pantai. Dipeluknya gadis itu begitu erat.
Ustad Sobur gugur dan dimakamkan didekat makam isteri dan anaknya. Dan lewat bantuan Pak Burhanudin yang sudah mampu bangkit kembali, Wildan menikahi Salma di kota ,Wildan kemudian bergabung dengan lembaga pembangunan kembali Aceh, sedangkan Salma menjadi perawat di PMI. Sebulan sekali mereka berkunjung ke Jakarta.