jendela-puisi

Sunday, January 13, 2008

Doa Seorang Pemuda Rangkas Bitung di Rotterdam

Bismillahir rohmanir rohiim

Allah! Allah!
Napasmu menyentuh ujung jari-jariku yang menyembul dari selimut
Aku membuka mata dan aku tidak bangkit dari tidurku.
Aku masih mengembara di dalam jiwa.

Burung-burung terbakar di langit dan menggelepar di atas bumi.
Bunga-bunga apyun diterbangkan angin jatuh di atas airhanyut di kali,
dibawa ke samodra disantap oleh kawanan hiu
yang lalu menggelepar jumpalitan bersama gelombang.

Aku merindukan desaku
limabelas kilo dari Rangkas Bitung
Aku merindukan nasi merah, ikan pepes, desir air menerpa batu
bau khusus dari leher wanita desa,
suara doa di dalam kabut.

Musna. Musna. Musna.
Para turis, motel dan perkebunan masuk desa.
Gadis-gadis desa lari ke kota bekerja di panti pijat,
para lelaki lari ke kota jadi gelandangan.
Dan akhirnya digusur atau ditangkapi disingkirkan dari kehidupan.
Rakyat kecil bagaikan tikus.
Dan para cukong selalu siap membekali para penguasa dengan semprotan anti hama.
Musna. Musna. Musna.

Kini aku disini.
Di Rotterdam.
Menjelang subuh.
Angin santer.
Jendela tidak kubuka, tapi tirainya aku singkapkan.
Kaca basah.
Musim gugur.
Aku mencium bau muntah.
Orang negro histeris ketakutan dikejar teror orang kulit putih
di tanah leluhurnya sendiri di Afrika Selatan.
Kekerasan. Kekuasaan. Kekerasan.
Dan lantaran ada tambang intan di sana,
kekuatan adikuasa orang-orang kulit putih
juga termasuk yang termasuk yang demokrat,
memalingkan muka, bergumam seperti orang bego,
dan mengulurkan tangan di bawah meja,
melakukan kerja sama dagang dengan para penindas itu.
Dusta. Dusta. Dusta.

Ya, Allah Yang Maha Rahman.
Tanganku mengembang di atas air bersama sampah peradaban.
Apakah aku akan berenang melawan arus?
Langit nampak dari jendela.
Ada hujan bulu-bulu angsa.
Aku hilang di dalam kegagapan.
Aku tidak bisa bersikap apa-apa.
Ada trem lewat.
Trem? Buldozer? Panser?
Apakah aku akan menelpon Linde?
Atau Adriaan?
Berapa lama akan sampai kalau sekarang aku menulis surat
kepada Oda di Jepang?
Sia-sia. Musna. Dusta
Rotterdam! Rotterdam!
Hiruk pikuk suara pasar di Jakarta
Bau daging yang terbakar.
Biksu di Vietnam protes membakar diri.
Perang saudara di India yang abadi.
Aku termangu.
Apakah aku akan menyalakan lampu?
Terdengar lonceng berdentang.
Berapa kali tadi?
Jam berapa sekarang?
Ayahku di Rangkas Bitung selalu bertanya:
Kapan kamu akan menikah?
Apakah kamu akan menikah dengan perempuan Indonesia atau Belanda?
Kapan kamu akan memberiku seorang cucu?
Apakah lampu akan kunyalakan?
Di Rangkas Bitung pasti musim hujan sudah datang.
Kenapa aku harus punya anak?
Kalau perang dunia ketiga meletus
nuklir digunakan, angin bertiup,
setiap mega jadi ancaman.
Jadi anakku nanti harus mengalami semua ini?
Rambut rontok. Kulit terkelupas.
Ampas bencana tidak berdaya.
Ah, anakku,
sekali kamu dilahirkan tak mungkin kamu kembali mengungsi
ke dalam rahim ibumu!

Suara apakah itu?
Elektronik musik?
Jam berapa sekarang?
Apakah sudah terlambat untuk shalat subuh?
Buku-buku kuliah di atas meja.
Tanganku mengambang di atas air.
Tanganku menjamah kaca jendela.
Hujan menerpa kaca jendela.
Dan dari jauh datang mendekat: wajahku.
Apakah yang sedang aku lakukan?
Ya Allah Yang Maha Rahman!
Tanganku mengambang di atas air
bersama sampah peradaban.
Apakah aku harus berenang melawan arus?
Astaga! Pertanyaan apa ini!
Apakah aku takut? Ataukah aku menghiba?
Apalah aku takut lalu menghiba?
Pertanyaan apa ini?

Ya, Allah Yang Maha Rahman.
Aku akan menilpon Linde
dan juga Adriaan.
Aku akan menulis surat kepada Makoto Oda.
Tanganku mengepal ke dalam airtercemar sampah peradaban.
Tidak perlu aku merasa malu untuk bicara dengan imanku.

Allah Yang Maha Rahman
imanku adalah pengalamanku


Rendra, Bojong Gede, 6 Nopember 1990

Soneta 17 by Pablo Neruda

aku tak mencintaimu seolah-olah kau adalah serbuk mawar,
atau batu topaz,atau panah anyelir yang menyalakan api.
aku mencintaimu seperti sesuatu dalam kegelapan yang harus dicintai,secara rahasia,
diantara bayangan dan jiwa.

aku mencintaimu seperti tumbuhan yang tak pernah mekar
tetapi membawa dalam dirinya sendiri cahaya dari bunga-bunga yang tersembunyi;
terimakasih untuk cintamu suatu wewangian padat,
bermunculan dari dalam tanah, hidup secara gelap di dalam tubuhku.

aku mencintaimu tanpa tahu mengapa, atau kapan, atau darimana
aku mencintaimu lurus, tanpa macam-macam tanpa kebanggaan;
demikianlah aku mencintaimu karena aku tak tahu cara lainnya
beginilah: dimana aku tiada, juga kau,begitu dekat
sehingga tanganmu di dadaku adalah tanganku,
begitu dekat sehingga ketika matamu terpejam akupun jatuh tertidur

Di Malioboro

--kepada seseorang yang mengingatkan saya akan Iramani, yang dibunuh di tahun 1965


Saya menemukanmu, tersenyum, acuh tak acuh di sisi Benteng Vriedenburg
Siapa namamu, kataku, dan kau bilang: Kenapa kau tanyakan itu.
Malam mulai diabaikan waktu. Di luar, trotoar tertinggal.
Deret gedung bergadang dan lampu tugur sepanjang malam
seperti jaga untuk seorang baginda yang sebentar lagi akan mati.
Mataram, katamu, Mataram...
Ingatan-ingatan pun bepercikan --sekilas terang kemudian hilang-- seakan pijar di kedai tukang las.
Saya coba pertautkan kembali potongan-potongan waktu yang terputus dari landas.
Tapi tak ada yang akan bisa diterangkan, rasanya
Di atas bintang-bintang mabuk oleh belerang,
kepundan seperti sebuah radang,
dan bulan dihirup hilang kembali oleh Merapi
Trauma, kau bilang (mungkin juga, "trakhoma?") membutakan kita
Dan esok los-los pasar akan menyebarkan lagi warna permainan kanak dari kayu: boneka-boneka pengantin merah-kuning dan rumah-rumah harapan dalam lilin.
Siapa namamu, tanyaku. Aku tak punya ingatan untuk itu, sahutmu.

Oleh: Gunawan Muhammad