jendela-puisi

Sunday, January 13, 2008

Di Malioboro

--kepada seseorang yang mengingatkan saya akan Iramani, yang dibunuh di tahun 1965


Saya menemukanmu, tersenyum, acuh tak acuh di sisi Benteng Vriedenburg
Siapa namamu, kataku, dan kau bilang: Kenapa kau tanyakan itu.
Malam mulai diabaikan waktu. Di luar, trotoar tertinggal.
Deret gedung bergadang dan lampu tugur sepanjang malam
seperti jaga untuk seorang baginda yang sebentar lagi akan mati.
Mataram, katamu, Mataram...
Ingatan-ingatan pun bepercikan --sekilas terang kemudian hilang-- seakan pijar di kedai tukang las.
Saya coba pertautkan kembali potongan-potongan waktu yang terputus dari landas.
Tapi tak ada yang akan bisa diterangkan, rasanya
Di atas bintang-bintang mabuk oleh belerang,
kepundan seperti sebuah radang,
dan bulan dihirup hilang kembali oleh Merapi
Trauma, kau bilang (mungkin juga, "trakhoma?") membutakan kita
Dan esok los-los pasar akan menyebarkan lagi warna permainan kanak dari kayu: boneka-boneka pengantin merah-kuning dan rumah-rumah harapan dalam lilin.
Siapa namamu, tanyaku. Aku tak punya ingatan untuk itu, sahutmu.

Oleh: Gunawan Muhammad

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home